Senin, 28 Mei 2012

kontrasepsi implan dan IUD

A.    DEFINISI
            Implant adalah Alat kontrasepsi yang berbentuk kapsul kosong silastic (karet silikon) yang di isi dengan hormon dan ujung-ujungnya kapsul yang di tutup dengan silastic adhesive.(Keluarga Berencana Hanafi.2004:179), sedangkan IUD adalah salah satu metode kontrasepsi yang paling populerdigunakan di seluruh dunia, jenis yang paling umum adalah Tembaga IUD.
B.     MEKANISME KERJA
1.      Mekanisme IUD

      Mekanisme kerja yang pasti dari IUD belum diketahui. Ada beberapamekanisme kerja IUD yang telah dianjurkan :
Ø  Timbulnya reaksi radang lokal yang non-spesfik didalam cavum uteri sehingga implantasi sel telur yang telah dibuahi terganggu. Disamping itu, dengan munculnya leukosit PMN, makrofag, foreign body giant cells, sel mononuclear dan sel plasma yang dapat mengakibatkan lysis dari spermatozoa/ovum dan blastocyst.
Ø  Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan terhambatnya implantasi.
Ø  Gangguan atau terlepasnya blastocyst yang telah berimplantasi di dalam endometrium.
Ø  Pergerakan ovum yang bertambah cepat di dalam tuba fallopii.
Ø  Immobilisasi spermatozoa saat melewati cavum uteri.
Ø  Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii. 
Ø  Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri.
Ø  AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu, walaupun AKDR membuat sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi.
Ø  Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus. 
Ø  Dari penelitian-penelitian terakhir, disangka bahwa IUD juga mencegah spermatozoa membuahi sel telur (mencegah fertilisasi). Ini terbukti dari penelitian di Chili, diambil ovum dari 14 wanita pemakai IUD dan 20 wanita tanpa menggunakan kontrasepsi. Semua wanita telah melakukan sanggama sekitar waktu ovulasi. Ternyata ova dari wanita akseptor IUDtidak ada yang menunjukkan tanda-tanda fertilisasi maupun perkembangan embrionik normal, sedangkan setengah dari jumlah ovum wanita yang tidak memakai kontrasepsi menunjukkan tanda-tanda fertilisasi dan perkembangan embrionik yang normal. Penelitian ini menunjukkan bahwa IUD antara lain bekerja dengan cara mencegah terjadinya fertilisasi.
2.      Mekanisme kerja Implan
Ø  Lendir serviks menjadi kental
Ø  Mengganggu proses pembentukan endometrium sehingga sulit terjadi implantasi
Ø  Mengurangi transportasi sperma
Ø  Menekan ovulas
C.    Efektifitas
ü  Implan

            Angka kegagalan Norplant < 1 per 100 wanita per tahun dalam 5 tahun pertama, Efektivitas Norplant berkurang sedikit setelah 5 tahun, dan pada tahun ke-6 kira – kira 2,5 – 3 % akseptor menjadi hamil, dan Norplant – 2 sama efektivitasnya seperti norplant, untuk waktu 3 tahun pertama.
 
PENAPISAN
Ø  Tanyakan apakah klien telah mendapatkan konseling tentang prosedur pemasangan implant
Ø  Tanyakan tentang adanya reaksi alergi terhadap obat (anastesi local atau jenis antiseptic tertentu)
Ø  Singkirkan kemungkinan adanya kehamilan
Ø  Periksa kondisi kesehatan klien yang dapat menimbulkan masalah.
Ø  Melakukan pemeriksaan fisik lanjutan bila ada indikasi dan meneliti kembali rekam medic

ü  IUD
Efektivitas dari IUD dinyatakan dalam angka kontinuitas (continuationrate) yaitu berapa lama IUD tetap tinggal in-utero tanpa :
a.Ekspulsi spontan.
b.Terjadinya kehamilan.
c.Pengangkatan atau pengeluaran karena alasan-alasan medis atau pribadi.


D.    Ekspulsi pada alat kontrasepsi IUD dan Implan
            Ekspulsi yaitu Pengeluaran sendiri alat kontrasepsi tersebut dari tempat insersinya. Yang disebabkan karena :
1.       Ekspulsi IUD
Sering dijumpai pada masa 3 bulan pertama setelah insersi, setelah satu tahun angka ekspulsi akan berkurang.
Ø  Umur dan paritas
·         Umur : Makin tua usia, makin rendah angka kehamilan, ekspulsi dan pengangkatan / pengeluaran IUD.
·         Paritas : Makin muda usia, terutama pada nulligravid, makin tinggi angka ekspulsi dan pengangkatan / pengeluaran IUD.
Ø  Lama pemakaian
Tergantung dari efektifitas jangka pemakaian IUD tersebut, jika pemakaian IUD sudah melewati batas dari jangka pemakaian IUD 10 tahun kemungkinan besar terjadinya ekspulsi.
Ø  Ekspulsi sebelumnya
Apakah sebelumnya pasien pernah mengalami ekspulsi pada alat kontrasepsinya, atau disebabkan karena insersi yang tidak baik dari IUD.
Ø   Jenis dan ukuran
Ukuran, Bentuk dan jenis dari IUD yang mengandung Cu atau Progesterone sangat menentukan terjadinya ekspulsi. Karena makin besar IUD,  makin sukar insersinya, makin rendah ekspulsinya, dan sebaliknya.
Ø  Faktor psikis
Yaitu dimana seorang aseptor mengalami gangguan psikologis seperti stress.
Ø  Waktu atau saat insersi
a.       Insersi interval
·      Kebijakan lama : insersi IUD dilakukan selama atau segera sesudah haid, alasannya ostium uteri terbuka, canalis servikalis lunak, wanita pasti tidak hamil. Tetapi akhirnya kebijakan ini ditinggalkan karena infeksi dan ekspulsi lebih tinggi jika insersi dilakukan saat haid.
b.      Insersi post partum
·      Insersi IUD adalah aman dalam beberapa hari postpartum, hanya kerugian paling besar adalah angka kejadian ekspulsi yang sangat tinggi. Menurut penelitian disingapura saat yang terbaik adalah 8 minggu post partum karena bahaya perforasi yang rendah.
c.       Insersi post abortus
·   Abortus semester I : ekspulsi, infeksi, perforasi, dan lain-lainnya sama dengan pada insersi interval
·   Abortus semester II : ekspulsi 5 – 10 x lebih besar dari pada setelah abortus trimester I
               Dari uraian di atas, maka efektifitas penggunaan dari IUD tergantung pada variabel administratif, pasien dan medis, termasuk kemudahan insersi, pengalaman pemasang, kemungkinan ekspulsi dari pihak akseptor, kemampuan akseptor untuk mengetahui terjadinya ekspulsi dan kemudahan akseptor untuk mendapatkan pertolongan medis.

2.      Ekspulsi Implan
            Susuk tidak akan berpindah pindah dari tempat insersinya, dan akan tetap berada di lokasinya sampai saatnya diangkat dan prosedur pemasangan selalu disertai pemberian anastesi lokal sehingga tidak akan timbul rasa sakit yang hebat.
E.     Penatalaksanaan oleh Bidan
Ø  Pada kasus ekspulsi IUD
·         Memperhatikan keadaan umum klien
·         Melakukan pemeriksaan keadaan fisik klien ( head to toe ) dan inspekulo pada tempat insersi IUD
·         Periksa apakah ada tanda – tanda infeksi pada Alat genitalia
·         Apakah ada perdarahan karena ekspulsi tersebut
·         Periksa apakah ada benang atau alat kontrasepsi AKDR yang tertinggal di dalam rahim
·         Periksa apakah terjadi perforasi pada klien untuk penanganan yang lebih lanjut ( apakah memerlukan rujukan )
·         Menjelaskan kejadian tersebut pada klien dan jika membutuhkan penanganan lebih lanjut ( rujukan ) siapkan informet consent dan informet choois pada klien.

Ø  Pada kasus ekspulsi Implan
·         Perhatikan keadaan klien
·         Jelaskan kepada klien apa yang terjadi dan prosedur apa yang akan di lakukan klien
·         Cabut kapsul ekspulsi
·         Periksa apakah kapsul yang lain masih di tempat
·         Periksa apakah ada tanda – tanda infeksi
-          Bila tidak ada infeksi dan kapsul lain masih berada di tempatnya, pasang kapsul baru 1 buah pada tempat insersi yang berbeda
-          Bila ada infeksi cabut seluruh kapsul yang ada dan pasang kapsul yang baru pada lengan yang lain
·         Anjurkan klien menggunakan metoda kontrasepsi lain, atau berikan konseling pada klien mengenai alat kontrasepsi lain.















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar